KOTAWARINGIN BARAT – Penutupan sementara pabrik tepung ikan di wilayah Kotawaringin Barat memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, khususnya di Desa Sungai Bakau dan Tanjung Putri. Sejak operasional pabrik dihentikan, mata pencaharian nelayan dan pemasok bahan baku terganggu, menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi pelaku usaha kecil.
Salah satu nelayan sekaligus pemasok ikan, Junaidi, warga Sungai Bakau RT 7, mengungkapkan bahwa dirinya telah menekuni profesi sebagai nelayan selama 25 tahun. Selain melaut, ia juga berperan sebagai pengumpul ikan yang memasok hasil tangkapan ke pabrik saat masih beroperasi.
“Awalnya kami mengirim ikan menggunakan perahu, kemudian berkembang menggunakan mobil hingga truk. Kegiatan ini berjalan sekitar satu tahun, dari 2024 hingga 2025,” ujarnya.
Menurut Junaidi, ketika pabrik masih aktif, volume pasokan ikan mencapai hingga dua ton per hari, dengan jumlah minimal sekitar 800 kilogram. Tingginya permintaan tersebut mendorongnya untuk berinvestasi dengan membeli truk guna mendukung distribusi.
“Jika pasokan sudah di atas dua ton, kami menggunakan truk. Namun setelah pabrik ditutup, truk tersebut tidak lagi terpakai. Akhirnya saya terpaksa menjualnya karena sulit mencari alternatif pekerjaan,” jelasnya.
Ia juga menambahkan, bahwa penutupan pabrik menyebabkan hasil tangkapan nelayan tidak terserap pasar, sehingga banyak ikan terbuang percuma.
“Sayang sekali, banyak ikan yang akhirnya terbuang,” keluhnya.
Hal serupa disampaikan Ramayah, warga Desa Tanjung Putri yang sejak 2023 menjadi pemasok bahan baku bagi pabrik tersebut. Ia mengaku mengalami kerugian besar akibat penghentian operasional pabrik.
“Kami sebagai penyedia bahan baku sangat dirugikan sejak pabrik ditutup. Harapan kami, pabrik tersebut dapat kembali beroperasi,” ungkapnya.
Ramayah menjelaskan bahwa sejak adanya pabrik tepung ikan, para pemasok mulai meninggalkan metode tradisional seperti penjemuran ikan, karena bergantung pada penyerapan hasil oleh pabrik.
“Saat ini kami kesulitan, karena sudah tidak lagi melakukan penjemuran ikan. Kami sangat berharap pabrik bisa segera dibuka kembali agar kami dapat kembali memasok dalam jumlah besar,” tambahnya.
Para nelayan dan pemasok berharap pemerintah serta pihak terkait dapat segera mengambil langkah strategis untuk mengaktifkan kembali pabrik tepung ikan tersebut. Mereka menilai, keberlangsungan operasional pabrik sangat penting untuk memulihkan roda perekonomian masyarakat pesisir yang saat ini terhenti. (*)

Tinggalkan Balasan