KOTAWARINGIN BARAT – Harapan para nelayan terhadap keberadaan pabrik tepung ikan di wilayah Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, berubah menjadi kekecewaan. Pabrik yang sebelumnya sempat beroperasi dan menyerap hasil tangkapan nelayan itu kini berhenti beroperasi sejak pertengahan tahun 2025, meninggalkan dampak kerugian bagi pemasok maupun nelayan setempat.

Junaidi, seorang nelayan asal Jawa Timur yang telah menetap di Sungai Bakau RT 7 selama 25 tahun, mengungkapkan bahwa dirinya sempat menjadi pemasok ikan ke pabrik tersebut. Ia mulai terlibat sebagai pengumpul hasil tangkapan nelayan sejak tahun 2024 hingga awal 2025.

“Pada awalnya berjalan lancar. Saya mengumpulkan ikan dari nelayan menggunakan perahu (kelotok), kemudian berkembang hingga menggunakan mobil pickup, bahkan truk karena volume yang terus meningkat,” ujarnya.

Foto: Kondisi Pabrik Tepung Ikan yang Sudah Tidak Berfungsi lagi

Dalam kondisi normal, Junaidi menyebut pasokan ikan ke pabrik dapat mencapai 1,5 hingga 2 ton per hari, bahkan pernah menyentuh angka 3 ton. Namun, ia menilai operasional pabrik tidak berjalan secara konsisten.

“Kadang ikan diambil, kadang tidak. Nelayan sudah bersusah payah melaut, tetapi saat hasil tangkapan dibawa ke darat justru tidak diterima. Hal ini yang memicu kekecewaan,” jelasnya.

Ketidakpastian operasional tersebut berdampak langsung pada distribusi hasil tangkapan. Sebagian ikan bahkan terbuang sia-sia karena tidak terserap pasar. Junaidi menilai kondisi ini merugikan banyak pihak, baik dirinya sebagai pengumpul maupun para nelayan.

Ia memperkirakan sedikitnya 15 nelayan aktif terdampak langsung dalam jaringan pasok yang ia kelola. Jumlah tersebut belum termasuk nelayan lain yang memasok melalui pengumpul berbeda di wilayah lain seperti Kubu.

“Jika pabrik beroperasi normal, di wilayah Kubu saja bisa melibatkan hingga 100 perahu (kelotok) sebagai pemasok. Namun karena operasional yang tidak jelas, banyak nelayan akhirnya berhenti,” tambahnya.

Untuk mendukung aktivitas distribusi, Junaidi bahkan sempat berinvestasi dengan membeli satu unit truk guna mengangkut ikan dalam jumlah besar. Namun setelah pabrik berhenti beroperasi, kendaraan tersebut terpaksa dijual karena tidak lagi digunakan.

“Saya sudah mengeluarkan modal besar hingga membeli truk. Tapi setelah pabrik berhenti, aktivitas juga terhenti. Akhirnya truk dijual dan kini hanya tersisa pickup,” ungkapnya.

Menurutnya, pabrik mulai benar-benar berhenti beroperasi sekitar April 2025, setelah sebelumnya mengalami gangguan operasional yang tidak menentu akibat berbagai kendala yang tidak sepenuhnya diketahui oleh para nelayan.

Junaidi berharap ada kejelasan dari pihak terkait mengenai kelanjutan operasional pabrik tersebut. Ia menilai keberadaan pabrik sangat penting dalam mendukung perekonomian masyarakat pesisir.

“Nelayan sangat bergantung pada kepastian pasar. Seharusnya pabrik ini bisa membantu meningkatkan pendapatan, bukan justru menimbulkan kerugian. Saat ini, yang terjadi adalah ikan terbuang dan tenaga terbuang sia-sia,” pungkasnya. (*)