JAKARTA – Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Menata Ulang Kebijakan Guru Honorer Pasca SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Menuju Pendidikan yang Adil, Bermutu, Bermartabat, dan Berkelanjutan” di Auditorium Penunjang Siaran Luar Negeri, Gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.30 WIB tersebut menjadi wadah dialog bagi berbagai pemangku kepentingan untuk membahas arah kebijakan dan masa depan guru honorer di Indonesia.

Acara dibuka langsung oleh Ketua Umum FORMAS, Yohanes Handoyo Budhisedjati, serta dihadiri Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor.

Yohanes Handoyo Budhisedjati, menegaskan bahwa persoalan guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan oleh seluruh pemangku kepentingan.

“Guru honorer memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pendidikan nasional. Mereka mengabdi di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil yang sulit dijangkau. Namun hingga kini mereka masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, mulai dari ketidakpastian status, rendahnya kesejahteraan, minimnya perlindungan kerja, hingga terbatasnya kesempatan pengembangan profesi,” ujarnya.

Menurut Yohanes Handoyo, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena kualitas pendidikan nasional sangat bergantung pada kesejahteraan dan kepastian masa depan para pendidik.

“Di satu sisi kita menginginkan lahirnya generasi unggul dan berdaya saing global, tetapi di sisi lain kesejahteraan para guru masih jauh dari harapan. Karena itu, diperlukan dialog konstruktif untuk merumuskan kebijakan yang lebih adil dan berkelanjutan,” ungkapnya.

FGD tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai unsur, antara lain Dr. Imam Bukhari, M.Pd. (Kasubdit MA/MAK), Temu Ismail (Sekretaris Dewan CTK), Yuyun Libriyanti, M.Pd.I. (Pusat Riset Pendidikan BRIN), Dudung Abdul Qodir (Ketua PB PGRI), M. Nur Purnamasidi (Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Partai Golkar), Dr. Nahdiana, S.Pd., M.Pd. (Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta), serta Indra Charismiadji selaku pemerhati dan praktisi pendidikan dari FORMAS. Diskusi dipandu oleh moderator Achmad Rizali.

Sekitar 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri dari guru honorer, akademisi, praktisi pendidikan, advokat, anggota PGRI, politisi, hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan. Berbagai masukan dan pandangan disampaikan peserta selama diskusi berlangsung.

Turut hadir dalam kegiatan itu Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Firdaus, Sekretaris Jenderal SMSI Makali Kumar, S.H., serta Direktur Media Crisis Center SMSI dr. Nishal Dillon.

Dalam sesi diskusi, Direktur Media Crisis Center SMSI, dr. Nishal Dillon, menekankan pentingnya penyelesaian persoalan guru honorer secara komprehensif demi kemajuan pendidikan nasional.

“Permasalahan guru honorer harus segera mendapatkan perhatian dan solusi bersama. Pendidikan merupakan fondasi utama pembangunan bangsa. Jika persoalan para pendidik tidak diselesaikan, Indonesia berisiko tertinggal dari negara lain dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum SMSI Firdaus, saat dimintai tanggapan secara terpisah, mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama memperjuangkan nasib guru dan dosen di Indonesia.

“Ini merupakan momentum yang tepat bagi kita semua untuk bersatu memperjuangkan kesejahteraan guru dan dosen. Masa depan pendidikan Indonesia sangat bergantung pada mereka yang setiap hari mencerdaskan kehidupan bangsa,” kata Firdaus.

Ia menambahkan bahwa pembangunan karakter bangsa dan kualitas generasi penerus tidak dapat dipisahkan dari peran guru dan dosen.

“Pembangunan karakter bangsa serta masa depan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari keberadaan guru dan dosen. Mereka adalah pilar utama dalam mencetak generasi yang berkualitas,” tegasnya.

Sebagai forum kebangsaan yang menghimpun berbagai organisasi masyarakat lintas agama dan lintas sektor, FORMAS menilai keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Melalui FGD tersebut, FORMAS berharap dapat menghimpun berbagai rekomendasi strategis yang dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang lebih berpihak kepada guru honorer dan kemajuan pendidikan nasional. (rls/ali/ab)