TAMIANG LAYANG – Hingga tiga hari setelah mencuatnya pemberitaan terkait meninggalnya balita berusia 2 tahun 9 bulan, Rayyan Kristiawan, pihak RSUD Tamiang Layang belum memberikan penjelasan resmi kepada publik.

Rayyan diketahui meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumahnya setelah sebelumnya mendapat penanganan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Tamiang Layang dan disarankan untuk pulang oleh petugas kesehatan.

Berbagai upaya konfirmasi telah dilakukan wartawan media ini kepada Direktur RSUD Tamiang Layang, dr. Vinny Safari. Mulai dari mendatangi kantor direktur hingga menghubungi melalui pesan WhatsApp, namun hingga berita ini diterbitkan belum ada tanggapan maupun keterangan resmi yang diberikan.

Sejak kasus tersebut menjadi perhatian publik dan diberitakan sejumlah media, pihak rumah sakit juga belum menyampaikan klarifikasi terkait kronologi maupun penanganan medis yang diterima korban sebelum meninggal dunia.

Sementara itu, Bupati Barito Timur, M. Yamin, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Rabu (10/6/2026), menyarankan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada pihak rumah sakit.

“Silakan konfirmasi ke Direktur RSUD Tamiang Layang,” jawab M. Yamin singkat.

Namun demikian, berbagai upaya konfirmasi yang dilakukan kepada Direktur RSUD Tamiang Layang hingga saat ini belum membuahkan hasil.

Kasus meninggalnya Rayyan juga memicu perhatian luas di media sosial. Sejumlah warganet menyampaikan rasa prihatin dan belasungkawa kepada keluarga korban. Tidak sedikit pula yang menyayangkan peristiwa tersebut dan meminta adanya penjelasan terbuka dari pihak rumah sakit.

Selain itu, dalam berbagai unggahan dan kolom komentar, sejumlah warga turut membagikan pengalaman mereka terkait pelayanan di IGD RSUD Tamiang Layang.

Beragam tanggapan tersebut semakin mendorong munculnya harapan masyarakat agar pihak rumah sakit segera memberikan klarifikasi resmi guna menjawab pertanyaan publik serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan.

Sebelumnya diberitakan, Seorang balita berusia 2 tahun 9 bulan, Rayyan Kristiawan, warga Desa Murutuwu, Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, meninggal dunia setelah sempat mendapatkan pelayanan kesehatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Tamiang Layang.

Peristiwa tersebut menimbulkan kekecewaan dari pihak keluarga yang menilai penanganan medis terhadap anak mereka belum optimal.

Berdasarkan keterangan keluarga, Rayyan mulai mengalami diare, muntah, dan demam sejak Minggu (7/6/2026). Kondisinya disebut terus memburuk dan kondisi tubuhnya semakin lemas hingga akhirnya dibawa ke IGD RSUD Tamiang Layang pada Selasa (9/6/2026) sekitar pukul 01.00 WIB menggunakan sepeda motor.

“Anak kami masih muntah-muntah dan diare terus. Karena khawatir, kami membawanya ke IGD untuk diperiksa,” ujar salah seorang anggota keluarga.

Sesampainya di rumah sakit, Rayyan menjalani pemeriksaan oleh tenaga kesehatan dan mendapatkan sejumlah obat.

Namun, menurut keluarga, setelah mendapatkan penanganan medis, pasien diperbolehkan pulang sekitar pukul 03.00 WIB dengan anjuran kembali ke rumah sakit apabila kondisi kesehatannya tidak mengalami perbaikan.

“Petugas menyarankan pulang terlebih dahulu dan apabila besok belum ada perubahan agar dibawa lagi ke rumah sakit. Namun dalam perjalanan pulang, kondisi anak semakin menurun hingga akhirnya meninggal dunia,” ungkap pihak keluarga.

Keluarga mempertanyakan proses pemeriksaan yang dilakukan terhadap Rayyan. Mereka menilai pemeriksaan yang diberikan hanya sebatas pemeriksaan dasar dan pemberian obat tanpa penjelasan yang memadai mengenai kondisi medis yang dialami pasien.

“Kami tidak mendapatkan penjelasan mengenai penyakit yang diderita anak kami. Setahu kami juga tidak ada pemeriksaan laboratorium atau pengambilan sampel untuk mengetahui penyebab penyakit yang dialaminya,” kata pihak keluarga.

Selain itu, keluarga menyebut sempat melakukan pembayaran administrasi dan menebus sejumlah obat dengan nilai sekitar Rp90 ribu sebelum meninggalkan rumah sakit.

Atas kejadian tersebut, keluarga berharap pemerintah daerah dan pihak rumah sakit melakukan evaluasi terhadap pelayanan kesehatan, khususnya dalam penanganan pasien anak.

“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah dan evaluasi terhadap pelayanan kesehatan agar kejadian seperti ini tidak terulang kepada keluarga lain,” ujar keluarga. (wan/ab)