TAMIANG LAYANG – Angka kemiskinan di Kabupaten Barito Timur (Bartim) turun cukup signifikan. Data terbaru menunjukkan persentase penduduk miskin pada 2026 berada di angka 5,63 persen, turun dari 6,1 persen pada 2025.

Penurunan angka kemiskinan tersebut berjalan seiring dengan tren membaiknya kondisi ketenagakerjaan di Bartim. Dalam tiga tahun terakhir, tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga tercatat terus menurun.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Barito Timur, Yulianto, mengatakan penurunan angka kemiskinan menjadi salah satu indikator perkembangan kondisi sosial ekonomi masyarakat.

“Angka kemiskinan pada 2025 sebesar 6,1 persen, kemudian pada data terbaru 2026 turun menjadi 5,63 persen,” ujar Yulianto saat ditemui wartawan ini di ruang kerjanya, Rabu (21/10/2026).

Menurutnya, pengukuran kemiskinan dilakukan berdasarkan garis kemiskinan yang menjadi batas minimum pengeluaran seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup.

Garis kemiskinan tersebut terdiri dari dua komponen utama, yakni kebutuhan makanan dan non-makanan. Komponen makanan mengacu pada kebutuhan sekitar 2.100 kalori per kapita per hari, sedangkan komponen non-makanan mencakup kebutuhan seperti perumahan, sandang, pendidikan dan kebutuhan dasar lainnya.

“Garis kemiskinan itu dihitung berdasarkan kebutuhan dasar masyarakat, baik makanan maupun non-makanan. Jadi bukan hanya melihat penghasilan, tetapi juga kemampuan memenuhi kebutuhan hidup,” jelasnya.

Dari sisi ketenagakerjaan, tren positif juga terlihat dari tingkat pengangguran terbuka di Bartim. TPT tercatat sebesar 3,37 persen pada 2023, kemudian turun menjadi 3,26 persen pada 2024, dan kembali menurun menjadi 3,15 persen pada 2025.

“Kalau melihat tiga tahun terakhir, tingkat pengangguran terbuka terus mengalami penurunan, dari 3,37 persen pada 2023 menjadi 3,26 persen pada 2024 dan 3,15 persen pada 2025,” ungkap Yulianto.

Untuk angka pengangguran 2026, BPS belum dapat menyampaikan angka resminya. Yulianto mengatakan proses pendataan baru saja selesai dan saat ini masih dalam tahap pengolahan.

“Untuk data pengangguran 2026 masih dalam proses pengolahan, sehingga angka resminya belum dapat kami sampaikan,” terangnya.

Ia menjelaskan, pengangguran terbuka merupakan penduduk usia kerja yang tidak bekerja dan sedang aktif mencari pekerjaan.

Sementara dari sisi perekonomian masyarakat, sebagian besar penduduk Bartim masih menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, perkebunan dan tanaman pangan.

Menurut Yulianto, sebagian hasil pertanian masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Namun, di sejumlah wilayah mulai terlihat perkembangan distribusi hasil pangan ke pasar yang lebih luas.

“Sebagian hasil pertanian memang masih dikonsumsi sendiri, tetapi beberapa wilayah sudah mulai mendistribusikan beras lokal dengan bekerja sama dengan Bulog,” tuturnya.

Yulianto menilai perkembangan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat dinamika perekonomian masyarakat Bartim.

“Penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, menjadi indikator yang perlu terus dijaga melalui penguatan sektor produktif, peningkatan kesempatan kerja serta pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat,” demikian Yulianto. (wan/ab)