BANJARBARU – Keluarga besar keturunan (zuriat) Datu Marais dan Hj. Datu Chadatul Kubra menggelar pertemuan akbar yang berlangsung khidmat di Komplek Guntung Harapan Mas, Kelurahan Guntung Manggis, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Sabtu (28/03/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk mempererat tali persaudaraan sekaligus menanamkan pemahaman sejarah serta silsilah keluarga kepada generasi muda.
Ketua Zuriat Datu Marais, Harliansyah, menegaskan pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan yang dilandasi pemahaman terhadap akar sejarah.
Ia menyampaikan, bahwa keluarga besar ini merupakan perpaduan antara garis keturunan ulama dan bangsawan yang memiliki peran penting dalam sejarah Kalimantan Selatan.
“Generasi muda perlu mengetahui bahwa keluarga ini merupakan perpaduan alim ulama dan bangsawan. Dengan memahami sejarah tersebut, diharapkan silaturahmi tetap terjaga tanpa sekat di antara sesama anggota keluarga,” ujarnya.
Dalam perspektif Islam, menjaga silaturahmi dan mengenal nasab (silsilah keturunan) memiliki kedudukan yang sangat penting. Hal ini bukan untuk menumbuhkan kesombongan, melainkan sebagai sarana menjaga hubungan kekerabatan agar tidak terputus.
Rasulullah SAW juga menganjurkan umatnya untuk mempelajari silsilah keluarga guna memperkuat hubungan persaudaraan, baik dengan kerabat dekat maupun jauh.
Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis, “Pelajarilah nasab-nasabmu yang dengannya kamu bisa menyambung silaturahmi. Kerena sesengguhnya menyambung silaturahmi itu menimbulkan rasa cinta diantara keluarga, memperbanyak harta, dan menunda ajal (memperpanjang umur),” HR. Tirmidzi & Ahmad.
Dalam pemaparan silsilah keluarga, dijelaskan bahwa pasangan Syahbudin dan Andin Hainah memiliki empat orang anak yang menjadi cikal bakal lahirnya sejumlah tokoh penting di Kalimantan Selatan. Dirja atau Ki Demang Yuda menurunkan garis keturunan yang salah satunya adalah Gubernur Sarkawi. Ulang atau Pembakal menurunkan Hj. Datu Chadatul Kubra yang kemudian menikah dengan Datu H. Marais.
Sementara itu, Dipa memiliki keturunan yang tersebar luas, sedangkan Aliyah menurunkan sejumlah tokoh penting, termasuk H. Rudy Ariffin yang pernah menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Selatan.
Lebih lanjut, Hj. Datu Chadatul Kubra disebut sebagai keturunan langsung Pangeran Tumenggung dari Kerajaan Daha, yang semakin memperkuat nilai historis dan kebangsawanan dalam silsilah keluarga tersebut.
Selain mempererat silaturahmi, keluarga besar ini juga ikut terlibat dalam pembentukan Yayasan Kerukunan Rama-Andin Nusantara Trah Negara Daha serta Lembaga Rama Andin Nusantara Trah Negara Daha.
Pembentukan wadah ini merupakan langkah konkret dalam pelestarian sejarah sekaligus sarana resmi untuk mendokumentasikan berbagai peninggalan keluarga, seperti foto-foto lama dan catatan silsilah.
Keberadaan yayasan tersebut diharapkan dapat menjadi penjaga keharmonisan dan kerukunan keluarga yang telah terjalin sejak masa lampau.
Keluarga besar Zuriat Datu Marais berharap generasi muda dapat lebih aktif mengenali dan memahami akar sejarah keluarga, sehingga nilai-nilai budaya serta ikatan persaudaraan dapat terus terjaga dan diwariskan lintas generasi. (slm/ab)

Tinggalkan Balasan