JAKARTA – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) memandang Agreement on Reciprocal Trade (ART) atau perjanjian dagang antara Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat sebagai realitas geopolitik yang harus disikapi secara bijak, cermat, dan strategis.
Pandangan tersebut mengemuka dalam Rapat Pimpinan Nasional SMSI yang digelar pada 6-7 Maret 2026 di Hotel Millenium Jakarta. Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Umum SMSI, Firdaus, dan diikuti seluruh Ketua SMSI daerah, termasuk Ketua SMSI Kalimantan Selatan, Anang Fadilah.
Dalam forum tersebut, pembahasan difokuskan pada Perjanjian Perdagangan Resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART), khususnya pada sektor Digital Trade and Technology yang dinilai memiliki dampak signifikan terhadap kedaulatan digital Indonesia.
“Dalam konteks geopolitik global, ART merupakan bagian dari relasi kekuatan antarnegara. Oleh karena itu, pendekatan konfrontatif dalam upaya pembatalan atau renegosiasi bukanlah solusi yang tepat,” ujar Firdaus.
Perjanjian dagang yang ditandatangani Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 19 Februari 2026 di Washington DC itu dinilai sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran nasional, khususnya bagi pemerintah dan insan pers, terkait urgensi kemandirian serta kedaulatan digital.
“Perjanjian ini harus menjadi pemicu bagi Indonesia untuk memperkuat posisi di sektor teknologi digital, bukan justru memperlemah,” tegasnya.
Berdasarkan hasil pembahasan, SMSI menyampaikan sejumlah sikap strategis, yakni:
Pertama, mendesak pemerintah bersama DPR RI untuk segera merancang regulasi yang mengatur kedaulatan digital nasional.
Kedua, mendorong percepatan pembangunan infrastruktur teknologi digital guna mewujudkan kemandirian nasional di sektor tersebut.
Ketiga, mengusulkan integrasi media layanan publik dalam satu platform digital nasional yang mampu menaungi media-media dalam negeri.
“Integrasi platform media nasional menjadi langkah penting untuk memperkuat ekosistem pers yang sehat, mandiri, dan berdaya saing di tengah arus globalisasi digital,” pungkas Firdaus. (rls/ali/ab)

Tinggalkan Balasan