TAMIANG LAYANG – Di tengah suasana duka yang menyelimuti Desa Matabu, terlebih di tengah bulan suci Ramadhan 1447 H, kehadiran aparat kepolisian menjadi penguat yang meneduhkan. Melalui Program Peduli Kapatean, Polsek Dusun Timur, Polres Barito Timur, Polda Kalimantan Tengah, menunjukkan bahwa tugas kepolisian bukan sekadar menjaga keamanan, tetapi juga merawat kemanusiaan.

Kapolsek Dusun Timur, IPDA Sulkhan Sururi, menyambangi langsung rumah duka di RT 06, Desa Matabu, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur, Rabu (25/2/2026).

Langkah itu bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sentuhan empati yang dihadirkan secara nyata di tengah keluarga yang kehilangan, terlebih dalam suasana Ramadhan yang penuh makna dan refleksi.

Program Peduli Kapatean merupakan inisiatif yang digagas oleh Kapolsek Dusun Timur, IPDA Sulkhan Sururi, sebagai wujud kepedulian dan dukungan moril Polri kepada masyarakat yang tengah berduka.

Kata “Kapatean” sendiri berasal dari bahasa Dayak Maanyan yang berarti “kematian”, sebuah istilah yang sarat makna, sekaligus pengingat bahwa dalam setiap akhir kehidupan, ada ruang bagi kebersamaan dan penguatan.

Kapolres Barito Timur, AKBP Eddy Santoso, melalui Kapolsek Dusun Timur, IPDA Sulkhan Sururi, menjelaskan bahwa program ini dihadirkan agar masyarakat benar-benar merasakan kehadiran Polri dalam setiap fase kehidupan, termasuk saat menghadapi musibah, bahkan di tengah bulan suci yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan bersama keluarga.

“Setiap kali menerima informasi adanya warga yang berduka, kami akan segera mendatangi rumah duka sebagai bentuk empati dan kepedulian Polri. Kehadiran kami adalah untuk memastikan masyarakat tidak merasa sendiri dalam menghadapi kesedihan,” ujar IPDA Sulkhan Sururi.

Di rumah duka, Kapolsek menyampaikan langsung ucapan belasungkawa kepada keluarga almarhum. Doa dan dukungan moril diberikan, disertai bantuan sebagai bentuk perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa polisi ada di dekat mereka, bukan hanya saat menjaga keamanan, tetapi juga saat merangkul yang sedang bersedih,” tambahnya.

Ia menambahkan, keamanan dan ketertiban bukan hanya soal hukum dan patroli, melainkan juga tentang menghadirkan rasa aman di hati masyarakat.

“Bahwa di balik seragam dan tugas negara, ada empati yang terus dijaga, dalam setiap duka, terlebih di tengah bulan suci Ramadhan 1447 H, negara hadir, menyapa, dan menguatkan,” demikian IPDA Sulkhan Sururi. (wan/ab)